Benarkah Pariwisata Mendatangkan Bencana?

Benarkah Pariwisata Mendatangkan Bencana?

“Dari catatan sejarah, gempa sudah melanda Lombok jauh sebelum pariwisata pesat seperti sekarang.”

Gempa yang belakangan terjadi di Lombok mendapat berbagai macam tafsiran dari masyarakat. Gempa tidak lagi dianggap sebagai fenomena alam biasa, melainkan ada ikut campur ulah manusia di dalamnya. Gempa berkekuatan 5,8 SR yang terjadi 17 Maret lalu ditafsir sebagai dampak dari pesatnya pariwisata di Lombok. Setidaknya hal itulah yang dirasakan warga Desa Sembalun Lawang, Lombok Timur.

Pandangan mengenai pariwisata sebagai dalang gempa ini tidak berhenti sebatas ucapan, tetapi sudah mewujud dalam bentuk protes dan tindakan. Sebagian warga Desa Sembalun Lawang memilih merobohkan gapura selamat datang dan merusak spot selfie yang ada di kawasan wisata tersebut. Hal ini dilakukan karena menurut warga objek wisata itu telah mendatangkan bencana.  

Anggapan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Agustus 2018 lalu, di saat gempa berkekuatan besar berulang kali mengguncang Lombok, muncul banyak anasir. Anasir-anasir tersebut banyak sekali terekam di media sosial, terutama Facebook.

Gempa yang menelan ratusan korban jiwa itu dikaitkan dengan pariwisata, murkanya penjaga Gunung Rinjani, hingga disangkutpautkan dengan sikap politik TGB yang merapat ke kubu petahana. Padahal, jika menengok sejarah, gempa merupakan fenomena alam yang lumrah terjadi. Tidak peduli di daerah tersebut terdapat objek pariwisata, rekreasi, maupun politisi.

Sebagai negara yang berada di kawasan Cincin Api (Ring of Fire) Indonesia tidak hanya rutin disambangi gempa, tetapi juga bencana alam lain seperti letusan gunung api dan tsunami. Nenek moyang kita sebenarnya sudah sangat paham dengan risiko hidup di nusantara. Hal ini terlihat dari konstruksi rumah yang dimiliki semua suku adat di Indonesia. Konstruksi rumah yang kita miliki sebagian besarnya adalah rumah panggung. Rumah panggung sangat aman dan terhindar dari ancaman gempa karena fondasi bangunannya tidak menancap di tanah. Rumah adat Bayan di Lombok Utara adalah bukti nyata rumah yang selamat dari gempa.

Lantas, benarkah pariwisata mendatangkan bencana?

Lombok bukan baru-baru ini saja disambangi gempa. Berdasar catatan sejarah, Pulau Lombok sudah tujuh kali diguncang gempa hebat yang rata-rata berkekuatan di atas 6 SR. Yang paling awal tercatat adalah gempa yang terjadi tahun 1856. Menurut catatan kolonial, gempa besar pernah terjadi di Labuan Tereng. Gempa dahsyat tersebut menyebabkan terjadinya tsunami di pesisir Ampenan. Namun sayang, belum ada catatan yang melaporkan berapa jumlah korban dari peristiwa ini.

Satu abad berselang, Lombok kembali dihantam gempa tahun 1970. Tidak tanggung-tanggung, pada dekade tersebut terjadi empat kali gempa besar. Masing-masing terjadi tahun 1970, 1972, 1978 dan 1979. Keempat gempa tersebut terjadi di Kota Praya dan Lombok bagian selatan. Dari keempat peristiwa gempa itu, hanya di tahun 1979 yang menelan korban jiwa. Tercatat sebanyak 39 orang yang dilaporkan tewas dari peristiwa ini.

Dari catatan sejarah di atas menunjukkan bahwa gempa telah terjadi di Lombok jauh sebelum pariwisata pesat seperti sekarang. Dari sejarah tersebut kita seharusnya bisa belajar bahwa tidak ada korelasi sama sekali antara gempa bumi dengan pariwisata. Jika memang pariwisata menyebabkan gempa, seharusnya Bali menjadi pusat gempa dan daerah yang terdampak parah. Namun nyatanya tidak demikian.

Gempa adalah sebuah keniscayaan bagi kita yang tinggal di garis khatulistiwa. Gempa adalah fenomena yang tidak bisa dihindari. Semua daerah di planet ini berpotensi dilanda gempa. Lombok bukanlah satu-satunya kawasan wisata di dunia. Di planet bumi ini semua negara pasti memiliki kawasan objek wisata. Tidak peduli itu negara Islam atau non-Islam, karena wisata tidak mengenal agama. Semua orang butuh rekreasi untuk berlibur.

Mengutuk pariwisata sebagai dalang bencana adalah tindakan sia-sia. Apalagi jika diiringi dengan tindakan perobohan fasilitas pariwisata seperti yang dilakukan warga di atas. Tindakan tersebut, alih-alih menjadi solusi, justru memperparah dampak yang ditimbulkan gempa. Tindakan sekelompok warga tersebut tidak ada bedanya dengan gempa, keduanya sama-sama menimbulkan kerusakan. Bedanya hanya menimbulkan guncangan atau tidak.

Peristiwa gempa ini sebaiknya menjadi pembelajaran bersama bahwa rumah nyaman yang kita tempati, sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa kita. Daripada sibuk sana-sini mengambinghitamkan orang lain, lebih baik kita turun tangan membantu saudara yang menjadi korban. Hal ini jauh lebih terpuji daripada mengutuk keadaan.

Bintang W. Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *