Aldi dan Harapan Baru Pendidikan Kita

Aldi dan Harapan Baru Pendidikan Kita

Pengumuman hasil ujian nasional tingkat SMA yang berlangsung Senin (13/5) lalu menjadi momen yang menegangkan sekaligus mengharukan. Terutama bagi mereka yang menunggu kabar kelulusan. Namun, bagi Aldi Irfan, ketegangan tersebut berujung haru.

Aldi Irfan adalah siswa SMA 1 Sembalun, Lombok Timur. Hari Senin itu seharusnya menjadi hari yang menyenangkan bagi Aldi. Sebab, total nilai UNBK yang ia peroleh adalah 192. Dengan nilai itu, ia seharusnya dinyatakan LULUS/TIDAK LULUS dan menjadi siswa lulusan terbaik kedua di sekolahnya. Namun, alih-alih bangga, pihak sekolah justru tidak meluluskan Aldi karena rekam jejaknya yang dianggap bermasalah.

Sosok di balik keputusan kontroversial itu adalah Sadikin Ali, Kepala Sekolah SMAN 1 Sembalun. Meski baru satu tahun menjabat di sekolah tersebut, Sadikin merasa berhak menjegal Aldi dari kelulusannya. Di matanya, Aldi adalah siswa yang nakal, tidak penurut, dan pelanggar aturan sekolah. Dia menutup mata atas keunggulan Aldi yang lain: juara kelas dan berperan aktif di organisasi dalam dan luar sekolah

Aldi dipandang sebagai siswa yang nakal karena kerap melawan guru dan tidak menuruti perintah. Kepala Sekolah mencatat Aldi kerap melanggar peraturan. Pada akhir Januari 2019, Aldi memprotes sikap Sadikin Ali yang memulangkan beberapa siswa karena datang terlambat melalui media sosial. 

Di akun Facebooknya Aldi menulis: Kami siswa SMAN 1 Sembalun tolong hargailah perjuangan kami, kami ingin sekolah untuk masa depan kami agar kami membahagiakan kedua orang tua kami. Pendidikan diperuntukkan untuk siswa bukan untuk dipersulit. Tolong lihatlah perjuangan kami. Salam demokrasi.

Kritik tersebut berujung pada pemanggilan Aldi oleh kepala sekolah. Aldi dimintai penjelasan mengenai alasan menulis status tersebut. Kepada Sadikin, Aldi menjelaskan bahwa teman-temannya terlambat bukan karena mereka malas, melainkan kondisi jalan menuju sekolah yang rusak karena terkena longsor. Namun, Sadikin tidak bisa menerima penjelasan Aldi.

Kasus lain yang menjadi pemberat pihak sekolah meluluskan Aldi adalah pernah melawan guru. Kronologinya waktu itu Sadikin meminta seorang siswa pulang karena melanggar aturan yang melarang penggunaan jaket di lingkungan sekolah. Siswa tersebut dipaksa pulang dan dilempari bak sampah.

Aldi tidak diam melihat peristiwa itu, dia berdiri dan menolong temannya. Menurutnya, pelarangan penggunaan jaket sangat tidak masuk akal. Kondisi geografis Sembalun yang berada di kaki Gunung Rinjani membuat suhu daerah tersebut mencapai 11-12 derajat.

Peraturan sekolah yang dibuat SMAN 1 Sembalun dirasa memberatkan bagi siswa. Namun, tidak ada yang berani protes langsung kecuali Aldi.

Aldi pernah ditantang Sadikin untuk mengumpulkan siswa-siswa lain yang setuju dengan perubahan aturan sekolah. Jika banyak siswa yang menolak, Sadikin berjanji akan mengubah peraturan sekolah. Aldi menyanggupi. Ia kemudian datang dengan ratusan siswa lain. Namun, Sadikin tidak kunjung menepati janji. Aturan sekolah tidak berubah.

Aldi di Mata Guru

Sadikin Ali mengatakan keputusan tidak meluluskan Aldi semata-mata bukan karena kebijakannya, melainkan telah melalui rapat dengan para guru. Namun, pernyataan itu tidak sepenuhnya benar.

Ruhaiman, wali kelas Aldi, adalah salah satu guru yang bersimpati. Ia mengaku sedih dengan keputusan sekolah yang tidak meluluskan muridnya. Di mata Ruhaiman, Aldi adalah siswa yang baik, rajin, sopan dan pintar.

Tidak hanya aktif di kelas, Aldi juga aktif berkegiatan di OSIS. Di organisasi siswa tersebut, Aldi kerap mendatangkan bantuan kepada sekolah. Ia pernah berhasil mendatangkan sumbangan 60 Alquran untuk sekolahnya. Bagi Ruhaiman, Aldi  adalah siswa yang kritis terhadap kebijakan yang merugikan teman-temannya.

Sebagai wali kelas, Ruhaiman tidak tinggal diam melihat nasib anak didiknya. Ia sempat membujuk kepala sekolah untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Namun, hasilnya nihil.

Masa Depan Pendidikan Kita

Apa yang menimpa Aldi sebenarnya telah mencoreng wajah Pendidikan kita. Bagaimana mungkin sikap kritis siswa bisa menjadi penghambat kelulusan. Alih-alih menentang, pihak sekolah seharusnya bersukur punya sosok siswa seperti Aldi. Terlebih alasan yang digunakan untuk tidak meluluskan Aldi sangat sederhana.

Keberanian Aldi mengkritisi kebijakan sekolah yang merugikan siswa tentu patut diapresiasi. Keberanian Aldi merupakan oase di tengah kurikulum yang meminta peserta didik untuk patuh dan hanya berambisi pada nilai semata. Aldi adalah bukti bahwa masih ada sosok siswa di negeri ini yang peduli sesama dan tidak gentar menentang setiap ketidakadilan.

Sosok Aldi sebaiknya menjadi contoh bagi siswa SMA lain di Indonesia. Saya meyakini, banyak sekolah lain di negara ini yang tidak masuk akal dalam membuat aturan. Namun, tidak banyak siswa yang memiliki keberanian dan menyikapinya dengan kritis.

Apa yang dilakukan Aldi, sebenarnya sudah jamak dilakukan oleh siswa-siswa di negara lain. Swedia bangga punya pelajar bernama Greta Thunberg. Pelajar berusia 15 tahun itu adalah dalang dari gerakan remaja “Bolos Sekolah Demi Iklim”. Mulanya Thunberg hanya melakukan demonstrasi seorang diri di depan parlemen Swedia. Ia memilih bolos sekolah demi aksi ini. Dalam hitungan minggu, aksi ini kemudian menyebar menjadi aksi global. Ribuan ribu pelajar dari Australia, Belgia, Prancis, Jerman hingga Amerika berkumpul dan bolos bersama demi aksi menuntut perubahan iklim.

Di Amerika ada pelajar berusia 16 tahun bernama Whitney Bowen. Bersama teman kelasnya ia membentuk kelompok remaja untuk menuntut reformasi kepemilikan senjata. Aksi ini muncul akibat terjadinya peristiwa penembakan brutal sebuah sekolah. Massa aksi ini kemudian bertambah drastis. Mereka menggelar aksi berbaring di depan Gedung Putih sebagai bentuk protes.

Peristiwa lain yang masih basah dalam ingatan kita adalah aksi Will ‘Egg Boy’ Connolly yang melemparkan telor di batok kepala Senator Selandia Baru, Fraser Anning. Will mengaku melempar telor itu sebagai bentuk ketidaksetujuannya dengan penyataan Anning yang justru menyalahkan korban pengeboman.   

Bentuk protes yang dilakukan Aldi sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan aksi pelajar dari berbagai negara di atas. Aldi tidak sampai mengerahkan massa dan mengajak pelajar lain bolos sekolah, apalagi sampai berani menceplokan telur di kepala Sadikin Ali. Aksi protes Ali masih dalam taraf wajar dan ‘sopan’.

Akan tetapi, alih-alih mendapat penghargaan, keberanian Aldi justru digembosi dengan cara menggagalkan kelulusannya. Dengan cara seperti ini, jangan harap negara kita bisa melahirkan remaja sehebat Thunberg dan pemberani seperti Egg Boy. 

Bintang W. Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *