Batu Goloq

Batu Goloq

Zaman dahulu, Padamara merupakan hutan belaka, penduduknya belum memiliki sesuatu pun, belum terdapat rumah-rumah, juga gang atau jalan. Yang ada hanyalah Sungai Sawing, tempat terletak sebuah batu yang dinamai Batu Goloq. Batu Goloq terletak di sana lantaran pada masa itu terdapat seorang raja yang bernama Noq Sediman yang letak keratonnya tak dapat diketahui dengan pasti.

Pada waktu itu, hiduplah satu keluarga yang sangat miskin dan melarat. Mereka adalah Inaq dan Amaq Lembain. Anak-anak mereka hanya dapat makan apabila Inaq Lembain mengambil upah menumbuk padi. Sementara sang suami, Amaq Lembain, selalu pergi ke hutan mencari kayu bakar untuk dijual, hasilnya untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Jika terdengar kabar ada yang menumbuk padi, di manapun tempatnya, akan ke sanalah Inaq Lembain pergi. Mereka mempunyai dua orang anak, wanita dan lelaki. Sang kakak berumur dua tahun, sementara si adik berumur satu tahun.


Suatu hari, Inaq Lembain berhasil memperoleh pekerjaan menumbuk padi, sementara kedua anaknya belum menyentuh makanan sama sekali. Inaq Lembain mempersiapkan pelataran tempat menumbuk dengan jalan membalurkannya menggunakan kotoran sapi yang dibiarkan beberapa lama, agar pelataran itu menjadi kering. Setelah semua siap, Inaq Lembain membawa kedua anaknya ke tempat menumbuk. Di dekat tempat itu, terdapat sebuah batu yang berbentuk ceper. Jarak antara batu dengan tempat menumbuk cukup renggang. Di dekatnya juga membentang sebuah sungai.


“Duduklah, Anakku. Ibu hendak bekerja agar kita tidak kelaparan. Tentu ibu akan dapat upah dari empunya padi.”


Mulailah Inaq Lembain menumbuk padi.
“Tung, teng, tung, teng,” bunyi alu terus-menerus.


Tak berapa lama berselang, terasa getaran dari batu tempat kedua anak Inaq Lembain tadi duduk, seperti bergerak naik menjadi tinggi. Makin lama makin meninggi saja. Lalu memanggillah anak yang sulung.


“Ibu, lihatlah! Batu ini bergerak-gerak ke atas,”


“Oh, tunggulah, Anakku. Ibu baru saja menumbuk,” demikian jawaban Inaq Lembain sembari terus melanjutkan pekerjaannya.


“Tung, teng, tung, teng,” alunya terus bertalu-talu.


Batu berbentuk ceper yang diduduki kedua anak itu ternyata Batu Goloq, batu peninggalan pada masa pemerintahan raja Noq Sediman. Batu itu kian lama kian meninggi, sementara Inaq Lembain terus menghiraukan panggilan kedua anaknya dan tak henti-hentinya melanjutkan pekerjaan.


“Tung, teng, tung, teng,”


Setelah panggilan ketiga dari si anak, Batu Goloq hampir setinggi pohon kelapa. Inaq Lembain bersikeras akan menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu sebelum kembali menyentuh anak-anaknya. Dengan demikian, anak-anak itu berada di tempat yang semakin tinggi saja.


Inaq Lembain bekerja tanpa henti. Semua antah dimasukkan ke dalam lumpang, kemudian ditumbuk.


“Tung, teng, tung, teng,”


Panggilan keempat dari sang anak terdengar lagi, tetapi makin samar dari panggilan sebelumnya. Tinggi Batu Goloq sudah melebihi tinggi pohon kelapa. Angin keras menerpanya. Selesai menyisih, Inaq Lembain menampi lagi dan membuang antah yang masih tersisa. Beras yang sudah bersih diletakkan pada tempatnya. Pekerjaan hampir selesai.


“Ibu, batu ini semakin tinggi. Dengarlah aku!” panggil sang anak untuk kelima kalinya.
Inaq Lembain sampai pada pekerjaan terakhir, menyisihkan antah dari beras. Menjelang pekerjaan berakhir, sang anak kembali memanggil. Mereka telah berada pada tempat yang kian tinggi. Dari bumi, tampaknya bagai sepasang burung kecil yang hinggap di ranting pepohonan. Suara mereka sampai, tetapi begitu sayup di telinga sang ibu.


Inaq Lembain tersadar setelah semua pekerjaannya diselesaikan. Lebih-lebih lagi ia terkejut mendengar suara anak-anaknya yang telah menyayup.


“Di mana anak-anakku?” Inaq Lembain mulai gelisah dan pelan-pelan mendongak ke arah langit. Dalam benaknya masih tak terlintas bahwa keduanya telah berada pada tempat yang kian tinggi.


“Baiklah, Anak-anakku, pekerjaan ibu sudah selesai. Ibu akan segera menanak. Bukankah kalian sangat lapar? Ya, makanlah dengan segera!” pikirnya dalam hati.


Inaq Lembain menyerahkan beras kepada pemiliknya, sedang kedua anaknya belum juga diperhatikan. Inaq Lembain menerima upah berupa menir dan beras, masing-masing satu kobok. Hatinya kian gembira. Menir itu ditanaknya untuk sarapan, sedangkan beras dimaksudkan untuk makan bersama-sama. Ketika Inaq Lembain mulai memasak, kedua anak yang tak tampak lagi karena berada di tempat yang begitu tinggi, mencoba memanggil sang ibu lagi, namun nihil karena tak ada lagi suara yang sampai.


Menir telah matang siap dihidangkan hanya dengan dibubuhi garam. Bersiaplah Inaq Lembain menyuapi kedua anaknya. Akan tetapi, ia justru sangat terkejut. Ia baru memperhatikan bahwa kedua anaknya telah berada di atas awan, hampir tak tampak oleh mata. Ia terkejut dan hilang kesadaran. Dirinya serasa dibanting-banting oleh penyesalan. Tangisnya pecah sejadi-jadinya, dan kata-kata penyesalan berhamburan dari bibirnya.
Perlahan, kedua anak itu hilang dari pandangan. Merasa menemui jalan buntu, Inaq Lembain memutuskan untuk berdoa kepada Tuhan.


“Ya Tuhan, berilah hamba jalan agar hamba dapat berjumpa kembali dengan anak-anak hamba. Sungguh hamba menyesal mengabaikan panggilan mereka sejak tadi. Oh, beginilah nasib mereka karena kelalaian hamba!”


Setelah itu, Inaq Lembain membuka sabuknya dan kembali berdoa.


“Oh, Tuhanku, inikah Batu Goloq itu? Bantulah hambamu ini, Tuhanku. Semoga dengan sabuk ini, batu itu terpenggal dan dapatlah hamba bertemu dengan anak-anak hamba.” ditebasnya Batu Goloq dengan sabuk pada bagian pangkal.


Ajaib, Batu Golog itu terpenggal dan terpotong menjadi tiga bagian. Potongan pertama jatuh di suatu tempat yang dinamai Desa Gembong, disebabkan besarnya bunyi jatuhan batu yang mengakibatkan tanah bergetar hebat. Potongan kedua jatuh di Dasan Batu. Nama Dasan Batu diambil karena pada waktu itu ada orang yang melihat jatuhnya potongan Batu Goloq. Sementara itu, potongan ketiga jatuh di tempat yang hingga kini dinamai sebagai Montong Teker, sebab bunyi runtuhan Batu Goloq menggelegar bagai guruh.


Kedua anak Inaq Lembain bukannya terjatuh dan kembali, melainkan terbang menjadi burung. Si anak perempuan berubah menjadi burung kekuwo, sedangkan si laki-laki berubah menjadi burung kelik. Karena diyakini merupakan penjelmaan manusia, demikianlah sebabnya kedua jenis burung itu tak mampu mengerami telur. Mereka selalu melepaskan telurnya pada burung gagak.


Sampai saat ini, ketiga bagian Batu Goloq itu masih dapat dilihat dan pernah dikeramatkan oleh orang-orang. Ketiga potongan sering diziarahi dan dijadikan tempat bertapa. Konon, hingga sekarang batu-batu itu pun dipandang angker.

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *