Gagal Paham Memaknai Kata ‘Dungu’

Gagal Paham Memaknai Kata ‘Dungu’

Orang-orang dengan polosnya menyebut oposan sebagai dungu. Sebuah kelucuan!

Tempo hari saya diskusi dengan kawan mengenai kata ‘dungu’ yang akhir-akhir ini menjadi bahan olokan kubu oposisi petahana. Rocky Gerung pada banyak kesempatan menyebut ‘dungu’ bagi kelompok yang pro pemerintah. Akan tetapi, benarkah kata ‘dungu’ berkonotasi pada kebebalan otak? Inilah yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Saya mengembangkan ide ini dari hipotesis kawan saya tadi, bahwa Rocky tak mengerti betul akar sejarah pembentukan kata ini. Mungkin, seandainya dia membaca sejarah lebih serius, kemungkinan besar ia tak akan latah menyebut lawan politiknya sebagai ‘dungu’.

Rocky mengatakan ia terbiasa menggunakan kosa kata ‘dungu’ untuk menggambarkan seseorang yang menjawab pertanyaan tanpa berpikir sistematis. Di akun Twitternya Rocky pernah ngetwit arti kata ‘dungu’ sebagai, “Koherensi antara dua premis yang tidak memiliki kesimpulan. Bayangin kalimat panjang gitu di Twitter coba? Gak muat, kan? Mending gue bilang dungu aja’”

Jika referensi bacaan kita hanya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan sedikit bumbu retorika akan mudah mengiyakan pendapat rocky tersebut. KBBI memaknai kata ‘dungu’ sebagai: Dungu (du·ngu) a sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh; (ke·du·ngu·an) n kebodohan; kebebalan.

Namun benarkah demikian? Jika kita melacak lebih jauh, kita akan mendapati kata ‘dungu’ merupakan bentuk serapan dari Bahasa Inggris yakni ‘dunce’.

Tidak hanya KBBI,  kamus Oxford juga memaknai kata ‘dunce’ sebagai: (dunce) /dʌns  / noun a person who is slow at learning; a stupid person: he was baffled by arithmetic and they called him a dunce at school. Kata ‘dunce’ mengalami perubahan prefik ‘nc’ menjadi ‘ng’ dengan tambahan prefik ‘u’ di akhir menjadi ‘dungu’.

Baik KBBI maupun kamus Oxford memaknai ‘dungu’ hampir senada yaitu bodoh/stupid. Maka tidak aneh jika Rocky mengeksploitasi makna ini dengan imajinasi rasionalnya. Hal yang mengejutkan ialah jika kita membaca keterangan tambahan dalam kamus Oxford sebagai berikut:

ORIGIN early 16th century : originally an epithet for a follower of John Duns Scotus (see Duns Scotus, John), whose followers were ridiculed by 16th-century humanists and reformers as enemies of learning.

Kata ‘dunce’ sejak awal memang ditujukan untuk mengolok-olok suatu kelompok yang dianggap oposisi. Dalam hal ini kata ‘dunce’ bermakna pengikut John Duns Scotus. Bisa dikatakan awal abad 16 adalah kelahiran kata ‘dunce’ yang diserap menjadi ‘dungu’. Namun, dalam konteks ini tidak bermakna kebodohan/stupidity melainkan pengikut mazhab pemikiran John Duns Scotus. Lantas siapakah dia?

John Duns Scotus, Filsuf Teolog Fransiskan

Kita akan terkejut jika mengetahui bahwa kata ‘dungu’ berasal dari sebuah julukan bagi penganut mazhab pemikiran teologi. Kata ‘dunce’ alih-alih bermakna stupidity/kebodohan justru merujuk pada sekumpulan orang cerdas.

Tak banyak jurnal berbahasa Indonesia yang mengkaji pemikiran John Duns Scotus. Namun, karena pemikirannya bersifat teologis, kita hanya akan mendiskusikan hal-hal umum untuk membuktikan bahwa kata ‘dungu’ lahir berlatar intelektual dengan bumbu filsafat di sana-sini.

Dalam kamus Oxford dijelaskan bahwa Duns Scotus, John /dʌnz ˈskəʊtəs  / (c. 1265–1308) , Teolog dan sarjana dari Skotlandia. Seorang tokoh yang sangat berpengaruh di Abad Pertengahan, ia adalah teolog besar pertama yang membela teori Immaculate Conception, dan menentang Santo Thomas Aquinas dengan berargumen bahwa iman adalah masalah kemauan, bukan sesuatu yang tergantung pada bukti logis.

Ia seorang teolog besar yang sekaligus anti-tesis St Thomas Aquinas. Aquinas sepertinya lebih masyhur di kalangan akademisi Indonesia dibanding Scotus. Ia lahir pada tahun 1265 di Skotlandia, sebelah utara Inggris. Semasa remaja ia menjadi biarawan Fransiskan. Adapula yang berpendapat Yohanes Duns Scotus lahir pada musim dingin 1266 di sebuah kampung kecil bernama Duns, di Berwickshire, Skotlandia. Pada usia yang sangat muda, sekitar 13 tahun, ia mulai diperkenalkan dengan Ordo Fransiskan oleh Pamannya, Elias. Ketertarikannya begitu besar pada Ordo Fransiskan.

Scotus mendapat gelar master dari Fakultas Teologi Oxford sekaligus menjadi dosen disana. Pada 1302 ia melanjutkan studi teologi di Universitas Paris, Prancis. Pada 1305 ia mendapat gelar doktor di Universitas Paris serta mendapat promosi Profesor. Setelah Paris, pengembaraan akademiknya tidak berhenti, ia melancong ke Jerman untuk mengajar di Koeln. Dan disanalah ia meninggal pada 8 november 1308.

Scotus fasih menerangkan filsafat Aristoteles, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dll. Bahkan ia adalah seorang anti-tesis mengenai pemikiran tentang ‘kehendak’ Aquinas. Sebagai filsuf ia juga memikirkan tentang sains, terutama masalah matter. Salah satu pemikiran Scotus yang terkenal adalah pendapatnya mengenai matter dalam Quaestiones subtilissimae de Metaphysicam Aristotelis, as translated in: William A. Frank, Allan Bernard Wolter (1995) Duns Scotus, metaphysician. p. 20-21 (dari plato.stanford.edu).

Scotus mempertanyakan apakah yang seharusnya menjadi objek dalam sains. Kemudian ia jawab sendiri bahwa objek sains adalah ‘tentang yang transendental’ sebagai penyebab tertinggi. Pertanyaan berlanjut lantas siapakah yang menjadi subjek dan objeknya. Apakah transendental metafisik itu sendiri sebagai subjek seperti pendapat Ibnu Sina ataukah Tuhan dan intelegensi sebagaimana pendapat Ibnu Rusyd. Diskusi ini dilanjutkan Scotus dalam pemikirannya mengenai ‘kehendak’.

Awalnya Duns, diolok Dunce, dan berahir Dungu

Duns adalah seorang ‘alim teologi Fransiskan, pemikirannya merambah ke berbagai aspek seperti Voluntarisma, Haecceitas, Kontingen Sinkronis, dll. Ia orang cerdas yang memiliki banyak pengikut. Hal lumrah lainnya adalah setiap mazhab pasti memiliki oposannya, begitupula pengikut Duns yang disebut pengoloknya sebagai Dunce.

Entah sebab apa kata ‘dunce’ berubah makna menjadi sesuatu yang berkenaan dengan ‘stupidity’. Dengan latah KBBI menyerap kata ‘dunce’ menjadi ‘dungu’ dengan makna yang sama. Dan, akhirnya orang-orang dengan polosnya menyebut oposan sebagai dungu. Sebuah kelucuan!

M. Fairuz Rosyid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *