Gempa dan Wajah Kita yang Terungkap

Gempa dan Wajah Kita yang Terungkap

Kebiasaan anak Lombok di Malang—lintas Orda, tentu saja—adalah ngobrol di warung kopi. Malam Jumat lalu, saya ngobrol di Kalimetro Kafe bersama Muamar (Lombok Timur) dan Bayu (Lombok Tengah). Malam sudah semakin mimit dan entah kenapa topik obrolan kami berubah. Kami mengenang bencana Lombok yang terjadi hampir setahun lalu.

Bayu bercerita pengalamannya terjun ke pelosok-pelosok sebagai relawan yang mengantarkan bantuan-bantuan. Ia melihat keberingasan. Ada cerita tentang pos-pos yang saling fitnah agar bantuan hanya diterima oleh mereka (dan keluarga mereka, dikuasai sendiri), atau cerita tentang antar pos yang saling mencari kesempatan mencuri logistik satu sama lain.

Bila dilihat dari konteksnya (krisis), keberingasan itu merupakan hal wajar. Krisis menyebabkan manusia secara wajar berbuat tidak adil. Tapi dalam obrolan kami malam itu, saya tidak ingin tunduk pada logika pewajaran. Saya mengajak Muamar dan Bayu memeriksa lagi, mengapa manusia cenderung berbuat tidak adil saat krisis? Apakah manusia selalu akan menyingkirkan yang-lain demi keselamatannya sendiri? Sehewan itukah fitrah kita?

Nyatanya, pengalaman sejarah tidak selalu menunjukkan demikian. Sebagai orang Islam, kita mengenal sejumlah teladan tokoh-tokoh muslim yang di saat krisis masih sanggup memikirkan kepentingan sesamanya, alih-alih memenuhi kepentingannya sendiri. Mereka “saling mendahulukan”. Mereka punya empati yang jernih. Krisis tidak mampu menggoyahkan empati bahkan saat mereka sendiri terancam mati.

Keteguhan empatikal itu, dari manakah datangnya? Kenapa wajah orang Lombok di saat krisis tidak demikian adanya?

Saya pikir, setelah hampir setahun berlalu dan mumpung sedang bulan puasa, sudah saatnya kita perlu berefleksi dengan berani dan jujur. Gempa adalah teguran atas kealpaan orang Lombok yang tidak lagi memerhatikan mentalitas-mentalitas kunonya. Hidup orang Lombok hari ini lebih banyak ditunjang oleh kuantitas, bukan kualitas. Banyak orang Lombok yang hidup dengan cara menimbun, bukan membagi. Mereka takut kehilangan, dan ketika bencana mengambil segalanya, mereka beringas menyelamatkan apapun dari kenyamanannya dulu.

Orang Lombok perlu mengenang lagi keputusan Nabi Saw untuk hidup ‘sama miskin’ dengan kebanyakan umatnya. Di tangan Nabi Saw, miskin bukanlah kehinaan. Miskin adalah seni hidup yang mendidik kekuatan mental dan empati. Miskin adalah seni melatih kesiapan berbuat baik di saat keadaan sendiri sedang tidak memungkinkan. Di tangan Nabi Saw, miskin dikembalikan pada kata dasarnya, sakana, yang salah satu artinya adalah kedamaian.

Miskin adalah gaya hidup yang banyak berpuasa. Di dalam hidup miskin ala Nabi Saw, yang harus dibangun dan dikejar bukanlah kuantitas, tapi kualitas. Bentuknya adalah cara berpikir, cara merasa dan cara bergerak yang “to be”-oriented. Hidup bukan tentang apa yang kita miliki. Memprihatinkan secara material adalah persoalan ke sekian. Memprihatinkan secara mentalitaslah yang harus dihindari.

Hanya dengan menjadi terbiasa dalam frekuensi miskin ala Nabi itulah, orang bisa belajar menjinakkan sisi hewani dirinya. Orang kaya sebaiknya “memiskinkan dirinya” dan orang miskin sebaiknya “menyegarkan kemiskinannya”. Saat dihantam krisis besar, tentu saja penderitaan akan tetap terasa perih, tapi setidaknya wajah orang Lombok dalam menghadapinya akan nampak lebih manusiawi.

A.S. Rosyid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *