Orang Timur dalam Tafsir

Orang Timur dalam Tafsir

Ada banyak kejadain yang membuat saya terkejut, yang pada akhirnya membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa ada banyak sekali kesalahan, bias, yang mengendap di ingatan orang ketika berbicara Orang Timur

Suatu kali, karena ingin lewat di depan seorang teman yang sedang duduk, saya membungkuk dengan maksud permisi. Melihat itu ia bertanya, “Emang di Timur ada adab kayak gitu juga?” Mendengar itu saya tersenyum.

Kali lain, karena sering melihat foto saya di pantai yang dekat rumah, seorang teman menyampaikan keinginannya dengan sedikit berseloroh “Ndi, tempatmu kok bagus sekali, ya. Aku pengen ke sana. Tapi tempatmu masih makan orang nggak?” Kami tertawa. Bahkan sampai ada yang bertanya “Emang di sana ada orang Islam, ya?”.

Suatu kali, sehabis  mudik tahun 2016 lalu, rute pesawat yang saya tumpangi dari Ambon transit di Jakarta lebih dulu baru ke Jogja. Saat di ruang transit, saya duduk dengan seorang teman yang sedaerah dan satu kampus dengan saya. Di samping kami kebetulan duduk dua waria yang, secara fisik dan bahasa, berasal dari Ambon. Kami tak sempat bercakap dengan mereka. Dua waria itu berperilaku sebagaimana waria pada umumnya: berbicara dengan kemayu dan intonasi suara yang sedikit meninggi. Mereka berbicara dalam bahasa Maluku. Saya memperhatikan teman ini begitu gelisah melihat tingkah kedua waria itu. Belum sempat saya tanya alasannya, ia dengan gusar menyatakan “Bikin malu Orang Timur saja!”. Ada yang bisa menangkap maksudnya?

Kasus lain, seorang teman dari Sumatera mengungkapkan rasa senangnya ketika keluar malam bersama teman kelasnya yang berasal dari Kei, Maluku Tenggara. Katanya, fisiknya besar, orangnya dingin, tapi kalau ada masalah dia yang diminta “menghadap”. Pada banyak kesempatan saya menyaksikan sendiri beberapa teman melakukan ini dengan bangga, kelewat bangga malahan. Mereka merasa nilai dirinya bertambah jika melakukan baku pukul. Begitu juga sebaliknya, mereka merasa wajahnya tercoreng jika tidak berani melakukannya.

Di Indonesia, bias suku tidak hanya terjadi pada orang timur, suku lain juga tidak lepas dari stereotip.  Ada anggapan umum di Ambon, dan mungkin juga di Sulawesi, NTT dan Papua bahwa orang Jawa cenderung lembek, lemah, pelit, dan asosial. Anggapan ini berangkat dari pengalaman pribadi saya. Dan anggapan semacam inilah yang membuat Orang Timur berani berperilaku semena-mena terhadap orang Jawa.  Mabuk, bikin onar, terdepan dalam baku pukul, tak pakai helm, dan hal-hal lain yang menunjukkan superioritas identitasnya secara fisik.

Sebagai orang  Ambon yang hidup dan tumbuh dalam stigma yang melekat pada Orang Timur, seperti yang ditunjukkan oleh teman di bandara, juga bias soal orang Jawa dengan karakteristik yang sudah saya singgung, kita seharusnya berani mengevaluasi diri, melakukan refleksi kritis dalam memandang kelompok sendiri dan juga kelompok lain.

Melebur: Menepis Tafsir Tunggal

Saya sendiri lahir dan besar di sebuah kepulauan terpencil di Maluku. Namun, tulisan ini adalah refleksi pribadi yang tak mewakili teman-teman Ambon maupun Maluku secara keseluruhan. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, saya lahir dengan anggapan-anggapan umum yang bias soal komunitas lain, khususnya masyarakat Jawa dan juga kepada diri dan komunitas sendiri.

Saya secara pribadi masih percaya pada apa yang pernah dituliskan oleh Amarty Sen. Ia menulis, “harapan akan terwujudnya harmoni di dunia amat bergantung terhadap pemahaman yang lebih jernih terhadap kemajemukan identitas menusia dan pada sikap untuk menerima bahwa identitas-identitas  tersebut saling bersinggung satu sama lain, dan hal ini bertolak belakang dengan suatu pemilahan tajam berdasarkan satu garis pengelompokan tunggal yang kukuh dan tertutup. [..] Sesungguhnya, kerancuan konsep, dan semata bukan niat jahat, dapat berperan besar dalam melahirkan kekacauan dan tindak tak beradab di sekitar kita”.

Identitas kultural bukanlah sebuah kitab suci yang diberikan begitu saja sebagai sebuah paket yang diamalkan oleh para pemeluknya. Identitas tak lain adalah hasil dari berbagai interaksi kompleks dengan dunia eksternal, baik alam maupun komunitas lain.

Saya sangat awam soal isu-isu rasialisme maupun kolonialisme. Saya hanya merefleksikan ini sebagai bahan permenungan pribadi, syukur-syukur dapat menjadi pantikan untuk diskusi lebih lanjut. Satu hal yang secara sadar saya lakukan untuk menepis anggapan-anggapan bias, baik terhadap kelompok lain maupun identitas sendiri adalah dengan melebur.

Saya belum punya alternatif cara. Tapi percayalah, dengan melebur, apa yang dikatakan Sen di atas sangat tepat. Sebelum ke Jogja, anggapan seragam terhadap “Jawa” menjadi pegangan, beserta segala sifat-sifatnya. Saat sudah di sini kita akan melihat perbedaan-perbedaan mencolok antara satu tempat dengan tempat lainnya. Antara Jogja dan Solo, Jogja dan Surabaya, Semarang dan Kendal. Begitu juga dengan Ambon dan Ternate, Tidore dan Sofifi, Kei dengan Pulau Seram. Silahkan tambahkan sendiri.

Intinya, memandang identitas tunggal sangatlah bias. Saya bisa mengingatkan diri sendiri dalam satu kalimat pendek “jangankan satu kota Ambon, atau satu kampung, dalam keluarga sendiri saja sangat jarang ada kesamaan sifat”.

Dengan mengikut wejangan dari Sen di atas, saya justru senang mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya tulis di awal: Orang Timur tukang rusuh, tak beradab, pembawa onar, benalu, primitif dan sebagainya. Jangankan marah, tersinggung saja tidak. Ini yang membuat saya begitu leluasa membagikan anggapan masing-masing komunitas dengan seorang teman dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Dan, setelah itu kami semakin sadar akan kompleksitas sebuah identitas, dan mengharamkan diri untuk memukul rata dalam satu anggapan tunggal.

Andi Ar-Rahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *