Seni Menjalani Hidup, dari Hamka hingga Gie

Seni Menjalani Hidup, dari Hamka hingga Gie

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.”

Benar kata Buya Hamka, hidup jangan begitu-begitu saja. Tanpa nilai. Kalau cuma hidup dan bekerja babi dan kera pun bisa. Artinya kalau kita hanya hidup untuk makan dan tidur, apa bedanya kita dengan binatang? Mereka cukup mahir melakukannya. Sebagai manusia kita tentu harus punya nilai lebih. Hidup bukan untuk makan dan tidur, tapi makan dan tidur untuk hidup. Pesan Hamka terasa menohok. Kita sebagai manusia dengan segala pembenarannya bekerja sekadar mendapat imbalan.

Lain Hamka lain Soe Hoe Gie. Aktivis penentang Orde Lama tersebut pernah berkata, “Orang-orang seperti kita, tidak pantas mati di tempat tidur.” Benar saja, aktivis tersebut tidur dalam keabadian di Gunung Semeru. Dan sungguh, hidup penuh bahaya seperti Soe Hok Gie jauh lebih terhormat daripada hidup aman tapi terbelenggu dalam penjara kota. Ya. Kita dipenjara. Tak percaya? Baiklah. Kau bisa saja pergi untuk mengejar impianmu sekarang juga. Detik ini juga. Tapi, kau malah memilih untuk duduk di kamarmu yang hangat, membaca tulisan ini dalam kenyamananmu.

“Orang-orang seperti kita, tidak pantas mati di tempat tidur.”

Kau lupa bahwa di luar sana ada petualangan yang menantimu untuk menjadi manusia, untuk membuatmu sadar bahwa dirimu bukan mesin yang mesti sekolah, kuliah, lalu mati tanpa pernah mengerti kenapa kau dikirim ke muka bumi. Kalau kita telaah atau mencoba menafisrkan kata-kata Soe Hoe Gie di atas, kita akan tahu betapa terkungkungnya kehidupan kita.

Coba bayangkan dari kedua kalimat Buya Hamka dan Se Hoe Gie di atas. Pernah tidak kita berpikir melakukan sesuatu untuk diri kita dan keluarga mapun lingkungan sekitar. Jika dirunut satu per satu, jawabannya barangkali sangat minim.  

Seiring bertambahnya usia, akal dan pikiran kita juga bertambah dewasa. Akan tetapi, kita sering bertanya kepada diri kita sendiri.  Untuk apa aku lahir?” Mengapa aku disini?” Apa yang seharusnya kulakukan untuk diriku dan keluargaku? Pasti dari kalian pernah berpikir begitu.

Ketika kita menelisik lebih jauh ke dalam perjalanan hidup kita, kita melihat bahwa keinginan diri eksternal kita adalah satu-satunya yang kita ketahui, sementara kita tidak mengetahui kebutuhan diri sejati, yakni kebutuhan batin kita.

Hidup adalah perjalanan dari satu kutub ke kutub lainnya, dan kesempurnaan hidup adalah tujuan akhir dari kehidupan yang tidak sempurna ini. Fitrah manusia tidak bisa menerima kalau akhir perjalanan hidupnya sama seperti hewan, yakni lahir, hidup, mati dan kemudian selesai. Tanpa melakukan apa-apa.

 Setelah membaca tulisan yang hangat ini. Mari kita berfikir kedepannya apa yang mesti kita lakukan kedepan. Atau sebaliknya, duduk di kamarmu yang hangat, membaca tulisan ini dalam kenyamananmu. Atau kau lupa bahwa di luar sana ada petualangan yang menantimu untuk menjadi manusia. Pilihannya ada dua: keluar dan memberi arti kepada manusia lain atau duduk dalam zona nyamanmu yang membuatmu tidak jauh berbeda dengan kera. Sekali lagi, itu pilihan. Kamu yang menentukan.

Ardiansyah Denyen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *